Don’t forget us Don’t forget me, everything about me -Don't forget (iKON) –=–=–=–=- Ah, sudah lama sejak aku bisa bangun dengan tenang tanpa harus bergegas ke kampus atau bergegas melanjutkan tugas dengan cepat sebelum kelas.
Pagi ini langit cerah, udaranya hangat dengan sang surya yang mengintip malu malu di balik awan. Tubuhku terasa segar dibawah pancuran air dingin.
Aku sedikit mematung saat membuka lemari, menimang nimang soal baju yang akan aku pakai hari ini. Pilihanku tertuju pada kemeja putih bergaris hitam dan celana bahan hitam. Sedikit merias wajahku dan merapihkan rambut, aku pun bersiap untuk berangkat untuk bertemu Ella-sahabatku- di kafe kesukaan kami.
Kafe dengan nuansa klasik bergaya Eropa tersebut merupakan kafe milik salah satu teman kampusku. Kafe ini menawarkan banyak dessert manis dan aneka ragam minuman yang istimewa.
Letaknya juga berada di seberang kampus, membuatku dan Ella setuju bahwa ini merupakan tempat terbaik untuk bersantai atau mengerjakan tugas.
Sesampainya aku di kafe, aku pun mengedarkan pandanganku mencari Ella yang sudah lebih dulu sampai. Aha! Disana, di pojok sebelah kanan terlihat figur yang sangat aku kenal sedang berbincang dengan seseorang. Aku pun melangkahkan kakiku menuju meja yang dikelilingi 4 kursi tersebut.
“El, udah lama?” Tanyaku sesaat setelah aku mendudukan pantatku, menginterupsi perbincangan Ella dan seorang laki laki disampingnya
“Eh, ngga kok. Baru lima menit lah” Jawabnya saat sadar bahwa aku sudah sampai “Pesen aja dulu sana” Ella pun menyodorkan buku coklat dengan tulisan ‘menu’ disampulnya.
Tanganku pun terulur untuk menerima buku seukuran binder tersebut. Mataku menyisir daftar dengan cepat sebelum akhirnya memanggil seorang pelayan untuk mencatat pesananku. Hanya pesanan milikku karena Ella dan lelaki disebelahnya sudah memesan lebih dulu.
“Eeum El” panggilku ragu
“Apa Ly?”
“Siapa?” Tanyaku merujuk pada lelaki yang terus Ella ajak bicara, mereka bahkan terlihat mesra!
“Oh, kenalin ini Owen” Ella memberi jeda membuatku menatapnya intens, meminta kejelasan “Aku, kita. Dia pacarku” Lanjut Ella cepat membuatku tersedak akan salivaku sendiri.
“Sejak kapan?” pertanyaanku di interupsi oleh datangnya makanan kami, pelayan sedikit repot saat mengatur meja membuat semuanya lebih lama.
“Seminggu yang lalu” Jawab Ella akhirnya, aku pun hanya bisa ber-oh ria. Entahlah, seminggu kemarin aku memang sibuk oleh banyaknya deadline. Aku menjadi sedikit kurang update tentang gosip gosip di kampus, bahkan cerita Ella soal bagaimana Owen dengan romantisnya menembak dirinya setelah pertandingan olahraga antar universitas pun aku baru tahu.
“Ly, kau memangnya tidak berniat mencari kekasih atau apa pun? Maksudku selama 4 tahun kita mengenal satu sama lain kau tidak pernah bercerita soal lelaki, kau mengerti maksudku kan?” Aku sedikit tersentak saat Ella berkata seperti itu
“Entahlah La, selama kuliah hidupku hanya berputar di antara kuliah-keluarga-kau-tugas-kuliah-rumah-kau-tugas, begitu saja selama 4 tahun” Ujarku beralasan yang sepertinya di percaya Ella.
Owen pamit setelah menyelesaikan sarapannya, masih ada kelas ucapnya meninggalkan aku, Ella dan dua cangkir minuman di meja. Obrolan kami tidak penting, soal gosip mahasiswa atau soal gosip dosen.
“El, gelangmu ga diganti ganti perasaan” Celetuk Ella tiba tiba saat aku mengangkat cangkir kopiku, hampir meminumnya sebelum berhenti di tengah jalan
“Kenapa memangnya?” Tanyaku sambil menurunkan kembali cangkir tadi, seleraku hilang sesaat.
“Perasaan kamu banyak deh bracellet lucu lucu gitu” Ella meminum latte miliknya sebentar sebelum melanjutkan “Tapi perasaan yang tiap hari dipake cuma yang biru itu aja”
“Favorit sih, bisa apa” aku sedikit terkekeh saat mengatakannya. Begitu pula Ella yang mengerti soal barang favorit wanita yang akan selalu dipakai jika ada kesempatan.
Obrolan kami harus terputus karena Ella yang masih mempunyai jadwal yang menunggu. Kami pun berpisah di depan pintu kafe tadi.
Percakapanku dengan Ella agaknya membuatku sedikit merasa bersalah. Karena telah berbohong kepadanya tadi.
Aku dan Ella bertemu di universitas saat masa pengenalan mahasiswa baru. Aku berasal dari salah satu SMA swasta yang berada di kota sebelah membuatku tidak mempunyai teman. Tidak ada yang mengenalku, begitu pula Ella.
Sosokku saat SMA tidak berbeda dengan sekarang, masih sama ambisiusnya, perfeksionisnya dan hatinya. Soal percakapanku dengan Ella tentang lelaki agaknya membuatku merindukan sosoknya, sosok pemberi gelang bermata biru yang kurindukan.
–=–=–=-
Hari itu hari hari terakhirku di SMA. Kami sekelas sepakat untuk mengadakan acara kecil kecilan. Acara yang diadakan di halaman belakang salah satu dari kami. Di acara itu kami di minta untuk membawa sebuah kado yang nantinya akan diberikan kepada seseorang yang spesial untuk masing masing dari kami.
Aku sehari sebelum acara diadakan pergi ke sebuah mall untuk mencari kado bersama satu satunya sahabatku dulu, Ethan.
Aku mencari hadiah untuk Ethan. Mencari acak agar sahabatku itu tidak menyadari rencanaku.
Aku membeli sepasang sepatu biru muda dari salah satu merk ternama, membuat Ethan mengeryit. Sejak kapan aku mempunyai uang untuk membeli sesuatu seperti itu?, ujarnya mengingat saat kami berdua bersama pasti dia yang membayar.
Padahalkan Ethan itu kaya, jadi sebanyak apa pun kami makan atau berbelanja Ia tak akan miskin! Aku menjawab dengan senyuman kala itu, mengabaikan tatapan tak percaya dari sepasang mata elang yang selalu membuatku tenang.
Ethan kala itu menarikku ke sebuah toko pernak pernik saat kami sudah kembali berkeliling.
“Bantu aku mencari gelang yang bagus” Ujarnya menunjuk ke etalase toko
“Untuk siapa?” Tanyaku
“Seseorang yang aku suka” Aku pun tersenyum pahit sambil menelisik satu persatu gelang gelang lucu yang ada di balik etalase.
“Itu yang bermata biru” Seruku setelah sepuluh menit diam menunduk. Saat salah satu pegawai toko mengeluarkan gelang tadi, aku pun kembali berdiri tegap. Lalu meringis saat merasakan leherku yang pegal.
Ethan dengan cepat menyetujui pilihanku dan meminta pewagai toko tadi untuk membungkusnya.
Tangan Ethan dengan lembut memijat pelan leherku saat kami mengantri di kasir. Aku tidak terkejut, Ethan memang sudah biasa melakukannya. Selesai membayar, kami pun langsung pulang ke rumah masing masing dengan tangan menenteng hadiah.
Sehari setelahnya, pada pukul tiga sore Ethan datang menjemputku. Sesampainya di tempat acara, banyak teman teman sekelas kami yang sudah datang. Acara pun dimulai dengan cepat.
Puncak acara adalah acara tukar kado. Orang orang sibuk mencari cari teman mereka, ada yang memberi kado untuk sahabatnya, pacar, ada juga yang menjadikan ini sesi confession.
Aku diam, Ethan tak terlihat dimana pun. ‘Dia kan membawa hadiah untuk seseorag yang dia suka, pasti sekarang mereka sedang berduaan atau bahkan mungkin sekarang Ethan sedang menyatakan perasaannya!’ otakku berkelana.
Tapi semua itu langsung hilang, sesaat setelah ada tepukan ringan di bahuku. Aku pun berbalik memandang kaget Ethan yang sudah ada di belakangku.
“Ly, ini buat kamu” Ethan menyodorkan kotak hitam kecil yang kukenali, hadiah yang Ethan beli kemarin
“Eh, Than ini juga buat kamu” sesaat setelah hadiah dariku berada di tangan Ethan, wajah kami sama sama memerah. Teman teman sekelasku menyoraki, senang saat akhirnya kami peka akan perasaan masing masing.
–=–=-
Sejak itu gelang pemberian Ethan selalu kupakai kemana pun lagi pula gelangnya memang lucu.
Ah, flashback hari ini membuatku merindukan sesosok Ethan yang selalu disampingku dulu. Itulah mengapa aku sekarang sudah berada disini.
Mengamati dalam diam lelaki bertubuh kurus yang masih anteng menutup matanya.
“Sudah lama sejak terakhir kau kesini” Ucap wanita paruh baya yang merupakan Ibu dari lelaki didepanku. Aku tersenyum kepadanya, tanganku masih mengelus tangan putih pucat milik Ethan.
Ethan, lelaki yang saat ini ‘tertidur’ dengan berbagai macam alat penunjang medis didepanku adalah Ethan yang dulu selalu menggangguku.
Kecelakaan parah sebulan setelah kelulusan kami membuatnya koma selama 4 tahun. Cedera otak, begitulah yang dokter sampaikan saat kami menunggui Ethan di depan ruang operasi.
Bibi Al-Ibu Ethan- selalu menghubungiku satu bulan sekali untuk mengabari soal Ethan.
Kesibukanku membuat aku jarang berkunjung ke rumah sakit kota asalku yang berjarak 1 jam perjalan melalui tol dari daerah kampusku.
“Ia tak akan bangun Elly. Kita harus mulai bersiap dari sekarang” Ucap Bibi Al tiba tiba
“Bi, jangan putus harapan dulu” sahutku tidak setuju
“Tapi ini sudah 4 tahun Ly. Aku tidak tahu lagi, melihatnya seperti ini selalu membuatku sedih” Aku Bibi Al. Aku pun bangkit, memeluk wanita paruh baya yang aku sayangi. Keluarga Ethan menjadi keluargaku juga dan begitu pula sebaliknya.
Sore itu aku berpamitan pada Bibi Al dengan janji akan menemuinya seminggu sekali. Bibi Al melepaskanku dengan senyumnya. Perjalanan pulang sore itu diiringi dengan beberapa kilas kenangan saat aku kecil dengan Ethan.
–=–=–=–=-
“Halo Elly”
“Ada apa Bi?”
“Ethan sudah menyerah”