Biji Kakao

“Anya” Suara bariton milik Mr. William menggema saat memanggil nama pemilik tugas makalah di hadapannya. Wajahnya mengeras, ketara sedang menahan marahnya. “Ya Mr William” Anya memandang gurunya gugup, kakinya terus bergerak dibalik rok hitam yang Ia pakai. “Anya, berapa minimal halaman untuk tugas ini yang saya sebutkan minggu kemarin?” “Seratus lima puluh sir.” “Lalu tugasmu?” Anya menggigit bibirnya sebelum akhirnya menjawab,“Seratus empat puluh sembilan Sir.” “Jadi, kamu tahu kesalahanmu?” “Ya Sir, saya tahu.” “Bagus, maka kamu tidak harus bertanya-tanya jika saya memberi nilai B untukmu.” Anya hanya tersenyum getir, “Ya Mr. William, saya mengerti”

Teman-teman Anya hanya bisa menatap Anya dengan pandangan sendu. Mereka tidak bisa melakukan apapun, karena Mr. William memang seperti itu, tegas dan keras kepala.

Anya pun kembali ke kursinya setelah Mr. William mempersilahkan dirinya untuk duduk. Pandangannya mengarah ke lantai, tapi senyumnya masih disana ketika teman temannya menyemangatinya.

Sepuluh menit kemudian bel pun berbunyi, Mr. William pun pamit dan membubarkan kelas. Anya yang sejak tadi menunduk pun ikut keluar kelas bersama beberapa temannya yang sedang mengobrol.

Di ujung koridor, Anya berbelok ke arah koridor loker. Ia pun membereskan buku-buku yang tidak Ia perlukan lagi untuk hari ini. Helaan napas terdengar saat Anya memasukkan makalah untuk kelas Mr. William hari ini, makalah yang membuatnya begadang beberapa malam.

“Hei” Suara panggilan yang bersamaan dengan dibukanya loker disamping loker milik Anya membuat gadis bermata hijau itu tersentak kaget. Buru-buru Anya memasukkan makalah tadi ke dalam loker dan menutupnya. “Buru-buru sekali” Suara itu kembali menyapa Anya yang mulai tersadar kalau dirinya tidak sendirian di koridor loker. “Oh, hei Denis” Sapa Anya saat sadar kalau yang menyapanya sejak tadi adalah teman kecilnya, Denis. “Hei, ada apa?” Tanya Denis yang bersandar ke lokernya dengan posisi menghadap Anya yang masih belum beranjak. “Tidak, tidak ada apa-apa” “Kau yakin? Terakhir kali kau berkata seperti itu, orang tuamu berpisah keesokan harinya” “Aku bersungguh-sungguh” “Baiklah” Denis menatap Anya sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, “Lalu bagaimana dengan kelas Mr. William?” Anya menatap Denis sebentar lalu kembali menatap loker merahnya, “Baik-baik saja, aku mendapat B untuk tugasku” Iris coklat milik Denis melebar saat mendengarnya, “Sejak kapan Anya cukup dengan nilai B?” “Sejak aku lupa jika minimal jumlah halaman untuk tugas makalahku adalah seratus lima puluh halaman bukannya seratus empat puluh”

Hening sejenak setelahnya dengan Denis yang masih menatap Anya dan yang ditatap masih menatap lokernya. “Anya, sungguh, apa kau baik baik saja?” Denis bertanya sekali lagi. “Siapa yang aku bohongi huh? Apa aku baik Denis? Tentu aku baik. Aku baik-baik saja menerima jika mimpiku sulit digapai. Membuat makalah seperti ini saja tidak becus, bagaimana mungkin aku bisa mengejar mimpiku” Bahu Anya mulai bergetar saat dirinya mengeluarkan semua yang Ia rasakan beberapa minggu ini.

“Anyaa” Denis menatap Anya dengan tatapan yang biasa Ia berikan kepada sahabatnya, tatapan hangat yang menenangkan. “Dengar, kau ada disini, di sekolah ini untuk belajar bukan?” Anya mengangguk sebagai jawaban. “Maka kegagalan adalah salah satu proses pembelajaran yang pahit. Aku tidak akan berbohong, kegagalan itu pahit. Tapi coklat yang semua orang suka karena manisnya itu berasal dari biji kakao yang pahit, yang kemudian diolah agar menjadi manis” Denis berhenti sejenak, untuk kembali memperhatikan Anya yang diam. “Kegagalanmu yang pahit, nanti akan terasa manis setelah kau melewati prosesnya. Proses menjadi manis itu tidak cepat, tetapi hei, ketika semuanya sudah menjadi manis, kepahitan yang kau rasakan di awal perlahan akan terlupakan kau lupakan.”

Denis mengambil napas sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, “Mimpimu akan tercapai Anya, jangan takut. Tetaplah percaya dan berusaha. Mungkin kau akan lelah di tengah-tengah prosesnya, dan ketika itu terjadi kau boleh beristirahat sejenak, kau boleh berlari kepadaku hanya untuk melepas penat. Aku akan selalu ada untukmu, mendengar ceritamu, keluh kesahmu selama kau tidak menyerah Anya.”

Anya memandang Denis dalam kemudian tersenyum, “Denis, terima kasih.” “Kapan pun Anya, kapan pun” Denis pun membalas senyuman Anya.