Ada seorang pedagang yang ikut berdagang di pasar yang dibuka tiap minggu di sini.

Dagangannya Ia simpan di hadapannya. Sebuah kardus coklat biasa yang dilubangi di beberapa bagian.

Lelaki yang kuperkirakan berumur 30-an ke atas itu berteriak, mencoba mengambil perhatian para anak anak yang ikut berbelanja di pasar bersama Ibu mereka. Suara ikut menyatu diantara teriakan para pedagang lain.

Aku pun mengintip ke sela sela kerumunan anak anak berusia 5 sampai 9 tahun yang sedang asik menatap isi kardus yang dibiarkan terbuka lebar.

Disana, di dalam kardus yang ukurannya tidak lebih besar dari laci mejaku, ada puluhan anak ayam yang bulunya sudah diwarnai. Pink, biru dan kuning, warna warna itulah yang terlihat di sana.

Para anak ayam tersebut bersuara,”Cit cit cit” mencoba mengambil hati anak anak yang berseru seru sambil berkerumun.

Aku tersenyum sambil memperhatikan kardus tadi. “Kamu mau beli yang gitu juga?” Tanya Ibu saat sadar akan apa yang aku perhatikan. “Ngga” Jawabku tanpa mengalihkan perhatianku. “Terus ngapain ngeliatin?” Tanya Ibu sekali lagi. “Anak ayam itu, mereka mempunyai warna yang beragam tapi tempat makan mereka tidak berwarna warni sesuai warna bulunya” Ucapku merujuk pada sebuah mangkuk berwarna merah tempat dimana pangan untuk para unggas tersebut disimpan. “Terus tempatnya harus warna pink buat yang bulunya pink atau biru buat yang warna biru gitu? Udah lah ga penting amat, sekarang cepat ikut Ibu, disana ada pedagang baju yang sedang diskon” Ucap Ibu yang sekarang sudah berjalan mendahuluiku.

Duh, Ibu ini tidak mengerti apa, padahal apa yang aku katakan itu sudah cerdas. Huh, dasar Ibu Ibu, yang mereka pedulikan hanyalah diskon, padahal belum tentu harga harga baju itu memang semahal itu sebelum di diskon.

Oh iya, ngomong ngomong perihal yang kukatakan tadi, itu memang cerdas bukan?